Saat Alarm Berbunyi

Saat Alarm Berbunyi

Alarm tubuh saya ternyata masih berfungsi. Ia mengingatkan saya untuk bahwa raga dan otak pun punya kemampuan terbatas, tidak boleh dipaksa untuk terus menerus bekerja. Awalnya tenggorokan saya yang berontak, tapi saya tidak menghiraukannya. Lalu mulailah giliran perut yang berontak. Baiklah, saya menyerah. Saya akan istirahat.
Satu hari istirahat, cukupkah? Oh, tidak ternyata. Raga dan otak saya minta tiga hari istirahat. Meskipun begitu, saya harus curi-curi waktu mengerjakan tugas kantor yang belum saya setor. Maafkan raga, kalau tugas kantor adalah masalah tanggung jawab. Otak saya pun, manggu-manggut menyetujuinya. Hihihi…

Alhasil, tiga hari saya istirahat di rumah. Tahukah siapa yang paling repot selama tiga hari itu? Ibu saya. Ibu repot membuat makanan yang saya sukai. Padahal kalau sakit, makanan seenak apapun, rasanya tetap pahit. Ibu repot membujuk saya ke rumah sakit untuk diopname. Ibu repot memasak air panas untuk mandi saya. Agak kesal sih, karena perhatiannya berlebih untuk seorang anak yang umurnya sudah kepala tiga. Tapi, mau berapapun umur kita, di mata Ibu, kita akan tetap seperti anak kecilnya. Perasaan kesal itu pun lama-lama luntur ketika melihat usahanya mengurus saya. Alarm hati saya pun berbunyi. Ternyata, perhatian saya kepada Ibu tidak sebanding perhatiannya kepada saya.

Tubuh dan hati, tolong bunyikan alarm lagi, kalau saya di luar kendali…

I’m Not a Salesman

I’m Not a Salesman

Pergi ke TK dan diituduh mau berjualan majalah itu rasanya seperti….

Bisa dibilang dari 10 TK yang saya kunjungi, ada 8 TK yang menyangka saya mau jualan. Ujung-ujungnya ketika  sekolah mereka dimuat di majalah saya, mereka berubah jadi manis sekali. I told you,  I’m not a salesman. I’m a reporter!

Tadi pagi kejadian dituduh pun terulang lagi. Satpam sekolah yang saya kunjungi, judes banget. Ketika saya bilang saya dari majalah, mukanya menjadi semakin judes. Katanya begini, “Udah ngasih proposal?” Lalu saya jawab, “Saya tidak mau menawarkan proposal. Saya mau interview dan sudah bikin janji. Saya ingin memuat sekolah ini di majalah saya.” Tapi dia masih ngotot soal proposal itu. “Kok saya gak tau? Setiap proposal yang masuk harus melalui saya dulu.” Ooo…rupanya si satpam merasa dilangkahi. Oke…saat itu saya mulai emosi. Emangnya siapa dia, kepala sekolah juga bukan! Untunglah, saved by the bell. Humas sekolah menelepon si satpam untuk menyuruh saya masuk.

Saya mendapat sambutan yang ramah dari humasnya. Kami ngobrol soal majalah, soal sekolah, dan kemungkinan untuk bekerjasama. Lalu saya diberi tour singkat ke seluruh gedung sekolah. Semua lancar, semua baik-baik saja. Mereka sangat welcome, beda sekali sama satpamnya.

Ketika saya keluar dari gedung, humas sekolah mengantar saya sampai ke pintu depan. Si satpam menatap dengan pandangan kurang senang. Tapi ucapan ramah tetap keluar dari mulut saya. “Terima kasih, Pak!” Padahal dalam hati segudang sumpah serapah untuk satpam itu.

Hmmm, mungkin memang selalu begitu hukumnya…. tuan yang baik, anjingnya pasti  galak.

Tak Mungkin Ada Pelangi Jika Tak Ada Hujan, Teman…

Tak Mungkin Ada Pelangi Jika Tak Ada Hujan, Teman…

Tahun 2012. Bulan Januari… Musim hujan yang kita tunggu-tunggu mulai datang. Datangnya tidak sendiri, tetapi membawa teman, bernama  angin. Kalau angin ketemu hujan, jadinya ya, duet maut.  Pohon tumbang, kanopi halte bus transjakarta copot, asbes-asbes tetangga melayang entah ke mana dan kena siapa, adalah efek dari duet maut itu. Dan, jangan lupakan banjir. Kabarnya, gempa juga akan banyak terjadi. Selamat datang tahun bencana.

Tahun 2012. Bulan Januari… Jalanan semakin macet, apalagi jalan raya di Jakarta.  Semakin banyak orang yang punya kendaraan bermotor.  Sedihnya melihat begitu banyak mobil yang hanya ditumpangi satu orang, sementara penumpang di bus kota  harus berdiri berdesak-desakan selama dua jam. Andai,  satu mobil pribadi diisi penuh, dan mobil lainnya istirahat di rumah saja, mungkin tidak semacet tadi. Selamat datang  di lalu lintas yang melelahkan.

Tahun 2012. Bulan Januari…Pekerjaan semakin berat, target juga semakin tinggi. Gaji tidak naik, tetapi harga-harga kebutuhan sehari-hari, semakin mahal. Otakpun semakin dipaksa untuk berpikir keras. Selamat datang beban hidup yang semakin berat.

Meski tahun  2012 begitu banyak bencana, begitu berat beban hidup, tetapi percayalah semua pasti bisa kita lewati. Jangan pernah menyerah, tetap usahakan yang terbaik.    Tuhan  memang tidak pernah menjanjikan kalau langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tetapi, Tuhan selalu memberi pelangi sehabis hujan badai, senyum sehabis air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa.

Kata orang, Tahun Naga Air adalah saat yang tepat untuk mengadakan perubahan. Jadi, tetap positive thinking ya, dekatkan diri kepada Tuhan. Ya, kita pasti akan menuju ke arah yang lebih baik.

Lagipula, tak mungkin ada pelangi jika tak ada hujan, teman…

Bank Hidup

Bank Hidup

Nyamannya hidup jika kita tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Nyamannya hidup jika kita merasa Tuhan bersama kita. Jangan pernah merasa takut kalau kita mau menolong orang. Takut kalau kita akan berkekurangan karena menolong. Mungkin rejeki memang untuk mereka, yang diberi Tuhan melalui tangan kita. Lagipula, rejeki gak ke mana kok. Nanti juga akan diberi-Nya lagi. Anggap aja itu Bank Hidup. Suatu saat nanti kita akan mendapat bunganya. :D

 

Diam Membuat Kita Mati

Diam Membuat Kita Mati

Pada masakan Jepang, kita ketahui bahwa ikan akan lebih enak untuk dinikmati bila ikan itu masih dalam keadaan hidup pada saat hendak diolah guna disajikan  bila dibandingkan dengan ikan yang sudah diawetkan dengan es.

Itulah sebabnya para nelayan Jepang selalu memasukkan ikan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan salmon2 tsb tetap hidup.
Mesti demikian pada kenyataannya banyak juga salmon yang mati di kolam buatan tsb.

Bagaimana cara mereka menyiasatinya?
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di kolam tsb. Ajaib!! Hiu kecil itu “memaksa” salmon2 terus bergerak karena salmon takut dimangsa hiu tsb.
Akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit!

Diam membuat kita mati! Bergerak membuat kita hidup!
Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yang dapat kita tangkap dari gambaran di atas.

Apa yang membuat kita diam? Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman.

Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati.
Ironis bukan?

Apa yang membuat kita bergerak?
Masalah, pergumulan dan tekanan hidup.
Saat masalah datang maka secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha bagaimana mengatasi semua pergumulan hidup itu.

Di saat2 seperti itu biasanya kita akan ingat Tuhan dan berharap pada Tuhan. Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kita pun menjadi berkembang luar biasa!!

Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai kehidupan.

Itu sebabnya kita syukuri “hiu kecil” yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive.

(Dapat dari milis…entah siapa penulisnya. Terima kasih, sangat menginspirasi. Semangat nyokkk!)

ABG sekarang

ABG sekarang

Kenapa ya, dulu  pas zaman saya ABG, apa-apa mahal banget.
Sampai-sampai, anak terakhir dapetnya seragam lungsuran dari kakak-kakaknya.
Sama halnya dengan buku-buku pelajaran, dapetnya ya, lungsuran.
Jajan makanan berat kalau istirahat sekolah, sepertinya
udah kaya banget. Maklum, uang jajan pas-pasan.
Sepatu kalau belum rusak, pasti enggak akan ganti.
Kaos kaki kalau kendor  selalu dikasih karet gelang biar kencang.
Kalau kaos kaki bolong, mau gak mau tetep dipake.
Kalau rambut udah panjang, salon ibu adalah salon andalan.
Creambath, manicure, pedicure, luluran  atau facial? Tidak terpikir sebersitpun.
Apalagi kalau ke salon cuma buat ngeblow. Gak penting…heuheu.
Tampil seperti anak gaul? Aduh…gak kepikiran deh.

Bandingin sama ABG cewek sekarang…
Seragam dekil sedikit aja, udah ganti.
Buku-buku pelajaran kurikulumnya tiap tahun ganti. Mau gak mau  harus beli baru.
Jajan makanan berat, itu sih biasa. Bukan berasa orang kaya.
Kalau ada sepatu model baru, selalu ganti. Yang lama, tau tuh dikemanain.
Kaos kaki kendor atau bolong? Ganti baru dong!
Dikit-dikit pasti ke salon. Walaupun cuma potong satu senti atau cuma buat ngeblow.
Kerjaannya creambath, manicure, pedicure, luluran, dan facial.
Pulang sekolah ngemall.
Makan di restoran-restoran fastfood atau nongkrong di depan Seven Eleven atau Circle-K sambil browsing atau ngobrol. Ck ck ck…dua tempat itu,  ‘sesuatu banget’ buat para ABG.  Isinya ABG semua, jek! Lebih tepatnya, ABG gaul…
Handphone atau BB, gak pernah lepas dari genggaman. Biaya pulsanya darimana itu?

Haduh…biaya operasional ABG sekarang tinggi bener, yak?
Makanya, saya takjub sekali  kalau sekarang ngeliat ada keluarga yang punya anak lebih dari tiga.
Seorang teman yang punya anak tiga pernah berkata,”Rejeki kan bisa dicari Win. Udah diatur sama Tuhan.” Ya, bener juga sih…Tapi, tapi…. Hmmm, kalau udah ngomongin yang ujung-ujungnya ke Tuhan, saya angkat tangan deh. Dan dengan terpaksa saya pun setuju…:D

Ditulis setelah melihat ayah, ibu, dan tiga orang anak tinggal di sebuah rumah petak yang kecil….Sumpah, saya cuma bisa geleng-geleng kepala, sambil bergumam dalam hati, “Gimana ngebiayainnya, ya?”  Saya  hanya berpikir ketika kita punya anak, kita juga harus bertanggung jawab membesarkannya sampai berhasil. Ya, tho?

That’s All Right, You’re Perfect

That’s All Right, You’re Perfect

We are perfect and special in our own way.
And you my friend, you’re perfect to me.

 

Fuckin Perfect (by Pink)

Made a wrong turn
Once or twice
Dug my way out
Blood and fire
Bad decisions
That’s alright
Welcome to my silly life
Mistreated, misplaced, missundaztood
Miss “no way it’s all good”
It didn’t slow me down
Mistaken
Always second guessing
Underestimated
Look, I’m still around…

Pretty, pretty please
Don’t you ever, ever feel
Like your less than
Fuckin’ perfect
Pretty, pretty please
If you ever, ever feel
Like your nothing
You’re fuckin’ perfect to me

You’re so mean
When you talk
About yourself
You are wrong
Change the voices
In your head
Make them like you
Instead
So complicated
Look how big you’ll make it
Filled with so much hatred
Such a tired game
It’s enough
I’ve done all i can think of
Chased down all my demons
see you same

Pretty, pretty please
Don’t you ever, ever feel
Like your less than
Fuckin’ perfect
Pretty, pretty please
If you ever, ever feel
Like your nothing

You’re fuckin’ perfect to me
The world stares while i swallow the fear
The only thing i should be drinking is an ice cold beer
So cool in lying and I tried tried
But we try too hard, it’s a waste of my time
Done looking for the critics, cuz they’re everywhere
They don’t like my genes, they don’t get my hair
Stringe ourselves and we do it all the time
Why do we do that?
Why do I do that?
Why do I do that?

Ooh, pretty pretty pretty,
Pretty pretty please don’t you ever ever feel
Like you’re less then, fuckin’ perfect
Pretty pretty please if you ever ever feel
Like you’re nothing you’re fuckin’ perfect, to me
You’re perfect
You’re perfect
Pretty, pretty please don’t you ever ever feel like you’re less then, fucking perfect
Pretty, pretty please if you ever ever feel like you’re nothing you’re fucking perfect to me

 

 

Keberatan Badan

Keberatan Badan

Tubuh ini rasanya kalau dibawa jalan, berat sekali.
Jika mengubah posisi dari jongkok ke berdiri, terasa sulit sekali.
Oo… ada apa dengan tubuh ini?
Saya mulai naik ke timbangan yang ada di pojok kiri.
58!!! Aih, gak salah lihat, ni?
Pantas, celana panjang favorit gak muat lagi.
Blazer jins yang keren itu gak bisa dikancingin lagi.
Ihiks…ternyata berat badan penyebab semua ini.

Ah, yaudah, berarti ini saatnya olahraga.
Kurangin camilan yang gak guna.
Meninggalkan lift, memulai lagi kebiasaan naik tangga.
Oh Tuhan, kapan ya,  bisa terlaksana?
Saya cuma ingin bisa pakai lagi baju yang lama.
Gak ngos-ngosan lagi kalau jalan kaki ke mana-mana.
Turun sepuluh kilo, bisa gak, ya?
Yaelah… turun dua kilo aja, minta ampun susahnya.
Kata orang-orang, yang penting usaha, jangan lupa berdoa.
Hehehe…nah itu dia…semoga bukan cuma niat semata.

Bukan Gara-gara Kostum

Bukan Gara-gara Kostum

Kata seorang teman, “Aku heran sama orang-orang yang pakai kaos dan sandal jepit ke kantor. Kok kayak gak ada semangatnya  ke kantor. ”
Kata saya, “Lah, aku pake sandal Mbak ke kantor,” sambil menunjukkan kedua kaki saya yang terpasang sandal.
Katanya lagi, “Kalau di kantor gapapa kalo pake sandal.”
Dalam  hati saya.  “Lah berangkat sama pulang pun, gue juga tetep pake sandal, hehehe…”
Untuk saya, pake kaos dan beralas kaki sandal ke kantor adalah sangat menyenangkan.
Yang mempengaruhi kita semangat atau tidak,  bukan kostum yang melekat sama kita, tetapi pekerjaan yang kita hadapi di kantor dan orang-orang yang kita temui.

Seperti Perumahan Orang Kaya

Seperti Perumahan Orang Kaya

Seperti komplek perumahan orang kaya, itu kata kakak, ketika kemarin berjalan-jalan di sekitar komplek rumah saya. Katanya, banyak mobil parkir di kiri kanan jalan, tetapi jalanan sangat sepi. Itu kondisi kemarin, ketika Lebaran ditunda oleh pemerintah. Mungkin, banyak orang yang kecewa, karena ketupat dan opor sudah siap, tetapi esok harinya mereka masih harus puasa. Jadi daripada marah-marah, mendingan tidur seharian di rumah. Alhasil, jalanan sepi dari manusia. Mungkin yaaaa…

Hari ini, akhirnya Lebaran yang benar, tiba. Tadi pagi setelah Sholat Ied, jalan raya ramai oleh orang yang hendak pergi ke makam untuk nyekar, ada juga yang hendak silaturahmi ke keluarga. Komplek rumah saya tetap sepi. Orang-orang pada ngumpul di rumah untuk makam sajian khas Lebaran. Semakin siang, suasana agak meramai sedikit. Penjual bakso, siomay, dan es krim, mulai keluar dari kandangnya.

Menjelang sore, saya mulai bosan di rumah. Saya naik sepeda keliling komplek, mencari tanjakan dan turunan untuk sekedar melemaskan kaki dan mencari keringat. Di jalanan, mobil parkir di kiri kanan jalan. Saya melewati tukang bakso, wahhh…rame dikerubuti pembeli, sampai gak keliatan si abang yang jualan. Hayooo, pasti mereka pada bosan makan hidangan bersantan. Pengen yang segar-segar….

Saya melewati pasar…cuma satu toko yang buka. Itu juga gak ada yang beli. Perjalanan dengan sepeda pun dihentikan sampai saya berkeringat. Cuma satu kesimpulan saya: Iya, seperti  komplek orang kaya. Hahahaha.

Selamat Hari Idul Fitri 1432 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.