Saya benci hari Senin. Kalau saya terlambat berangkat semenit saja, berarti saya tidak dapat bus. Dan ceritanya pun bisa ditebak… saya akan cengo menunggu di terminal selama setengah atau satu jam sampai bus datang. Saat bus datang, saya akan berebut dengan orang-orang lainnya untuk mendapatkan kursi. Sampai di terminal Lebak Bulus, bus transjakarta juga tidak tersedia. Di halte, terjadi penumpukan penumpang. Lagi-lagi rebutan tempat duduk. Cape dehhhh…. cerita yang sama setiap hari Senin pagi dengan pemain figuran yang selalu berbeda.
Senin dua minggu yang lalu, pemain figurannya adalah seorang perempuan seumur saya, sekitar 30 tahun. Dan seorang lelaki berumur sekitar 35 tahun. Waktu itu, banyak penumpang yang berebutan masuk ke dalam bus transjakarta supaya mendapatkan kursi. Di sebelah saya, kursi masih kosong. Dua orang berebutan. Si perempuan sudah bersiap-siap hendak duduk. Saat bersiap-siap, si lelaki sudah duduk manis di kursi itu. Dan…sedetik kemudian, saya melihat si perempuan sudah duduk di pangkuan lelaki. Keadaan itu berlangsung selama dua detik. Si perempuan tidak sadar kalau ia duduk di pangkuan lelaki asing, dan si lelaki tak bergeming sedikitpun. Ehem… mungkin dia menikmati situasi tersebut. Saya, mau ketawa, tapi cukup dalam hati. Hihihi…prikitiew.
Situasi berakhir dengan marahnya si perempuan. Katanya, “Mas, bisa ngalah nggak sih sama perempuan.” Tak ada kata yang keluar dari mulut si lelaki, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Ia cemberut dan menatap tajam si perempuan, lalu keluar dari bus dan menunggu bus berikutnya.
Perempuan itu tidak tua, tidak hamil, tidak cacat, dan masih kuat, tapi masih minta diistimewakan dengan membawa-bawa jenis kelaminnya.
Ah si mbak, malu dong sama si mbah di bus yang menggotong gembolan besar di punggung, tapi tidak meminta penumpang lain untuk memberikan tempat duduknya.
Ah, si mbak, malu dong bawa-bawa nama perempuan….