Pergi ke TK dan diituduh mau berjualan majalah itu rasanya seperti….
Bisa dibilang dari 10 TK yang saya kunjungi, ada 8 TK yang menyangka saya mau jualan. Ujung-ujungnya ketika sekolah mereka dimuat di majalah saya, mereka berubah jadi manis sekali. I told you, I’m not a salesman. I’m a reporter!
Tadi pagi kejadian dituduh pun terulang lagi. Satpam sekolah yang saya kunjungi, judes banget. Ketika saya bilang saya dari majalah, mukanya menjadi semakin judes. Katanya begini, “Udah ngasih proposal?” Lalu saya jawab, “Saya tidak mau menawarkan proposal. Saya mau interview dan sudah bikin janji. Saya ingin memuat sekolah ini di majalah saya.” Tapi dia masih ngotot soal proposal itu. “Kok saya gak tau? Setiap proposal yang masuk harus melalui saya dulu.” Ooo…rupanya si satpam merasa dilangkahi. Oke…saat itu saya mulai emosi. Emangnya siapa dia, kepala sekolah juga bukan! Untunglah, saved by the bell. Humas sekolah menelepon si satpam untuk menyuruh saya masuk.
Saya mendapat sambutan yang ramah dari humasnya. Kami ngobrol soal majalah, soal sekolah, dan kemungkinan untuk bekerjasama. Lalu saya diberi tour singkat ke seluruh gedung sekolah. Semua lancar, semua baik-baik saja. Mereka sangat welcome, beda sekali sama satpamnya.
Ketika saya keluar dari gedung, humas sekolah mengantar saya sampai ke pintu depan. Si satpam menatap dengan pandangan kurang senang. Tapi ucapan ramah tetap keluar dari mulut saya. “Terima kasih, Pak!” Padahal dalam hati segudang sumpah serapah untuk satpam itu.
Hmmm, mungkin memang selalu begitu hukumnya…. tuan yang baik, anjingnya pasti galak.