Alarm tubuh saya ternyata masih berfungsi. Ia mengingatkan saya untuk bahwa raga dan otak pun punya kemampuan terbatas, tidak boleh dipaksa untuk terus menerus bekerja. Awalnya tenggorokan saya yang berontak, tapi saya tidak menghiraukannya. Lalu mulailah giliran perut yang berontak. Baiklah, saya menyerah. Saya akan istirahat.
Satu hari istirahat, cukupkah? Oh, tidak ternyata. Raga dan otak saya minta tiga hari istirahat. Meskipun begitu, saya harus curi-curi waktu mengerjakan tugas kantor yang belum saya setor. Maafkan raga, kalau tugas kantor adalah masalah tanggung jawab. Otak saya pun, manggu-manggut menyetujuinya. Hihihi…
Alhasil, tiga hari saya istirahat di rumah. Tahukah siapa yang paling repot selama tiga hari itu? Ibu saya. Ibu repot membuat makanan yang saya sukai. Padahal kalau sakit, makanan seenak apapun, rasanya tetap pahit. Ibu repot membujuk saya ke rumah sakit untuk diopname. Ibu repot memasak air panas untuk mandi saya. Agak kesal sih, karena perhatiannya berlebih untuk seorang anak yang umurnya sudah kepala tiga. Tapi, mau berapapun umur kita, di mata Ibu, kita akan tetap seperti anak kecilnya. Perasaan kesal itu pun lama-lama luntur ketika melihat usahanya mengurus saya. Alarm hati saya pun berbunyi. Ternyata, perhatian saya kepada Ibu tidak sebanding perhatiannya kepada saya.
Tubuh dan hati, tolong bunyikan alarm lagi, kalau saya di luar kendali…